GENERASI
PLASTIK
Plastik merupakan benda
yang akrab menemani kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari mainan anak-anak
sampai bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Berbagai label plastik sudah
merebut ketenaran di berbagai aspek kehidupan, mulai dari limbah (pencemaran),
komoditi perdagangan juga bagian dari gaya hidup masyarakat modern seperti
operasi plastik. Kemunculan berbagai isyu yang berlabel plastik ini menjadi
suatu fenomena yang manarik. Sebagian orang berpendapat plastik adalah limbah yang
sulit dimusnahkan di muka bumi, pada bagian lain plastik adalah ajang kamuflase
generasi yang serba instan.
Masih ingat kasus beras plastik yang
meresahkan warga masyarakat di akhir tahun 2015 lalu? Ketergantungan masyarakat
akan bahan makanan pokok beras cukup mengganggu stabilitas Negara. Mengingat
masyarakat kita sudah terlanjur cinta makanan pokok beras sebagai konsumsi
makanan wajib sehari-hari. Beras plastik ini disinyalir berasal dari china
Taiyuan di provinsi Shanaxi yang terbuat dari bahan campuran gandum, ubi dan
limbah plastik sehingga menyerupai bentuk beras pada umumnya.
Belum selesai keresahan akan
beras palsu muncul lagi harga kenaikan bahan pokok seperti beras yang terus
melonjak. Tidak hanya rakyat miskin yang khawatir akan kenaikan ini, akan
tetapi para petinggi daerah mengeluhkan kenaikan harga beras karena hal ini
akan berpengaruh besar bagi penambahan jumlah kemiskinan di negara tercinta
ini. Berharap mendapatkan subsidi raskin
untuk masyarakat miskin di daerah-daerah, dengan harapan pemerintah memberikan
subsidi lebih banyak.
Hal ini malah disambut dengan ucapan “dietlah
dikit” yang dituturkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.
Ucapan ini justru membuat rakyat semakin terpukul, sehingga mengeluarkan reaksi
pembicaraan yang cukup ramai di media social seperti “kami
sudah kurang makan kok disuruh diet”,
makanan kami beras bukan gandum atau kurma dan sebagainya.
Kembali kepersoalan plastik yang
terus merajai di berbagai bidang. Plastik memang relatif lebih murah. Namun keberadaannya
akan menjadi polemik yang tidak ada habisnya untuk kehidupan manusia di muka
bumi. Limbah plastik tidak dapat terurai secara cepat dan oleh karena itu akan
mencemari lingkungan hidup yang
mengakibatkan berbagai masalah baik di daratan, kanal, laut danau, sungai, dan
juga drainase. Tak ayal banyak terjadi kebanjiran d iberbagai daerah karena
pendangkalan sungai maupun penyumbatan aliran air karena sampah plastik. Limbah
ini merupakan limbah manusia dari berbagai sumber baik dari kantong plastik,
botol kemasan minuman plastik, komponen elektronik, mainan anak-anak, alat-alat
rumah tangga dan sebagainya.
Sebagai contoh kecil kemasan botol minuman plastik setiap detik penyumbang
sampah terbesar. Bayangkan saja satu sekolah yang memiliki ratusan siswa setiap
harinya mengkonsumsi makanan dan minuman dengan kemasan plastik. Jika satu
sekolah memiliki dua ratus siswa dikalikan hari dalam satu kecamatan berapa
gunungan sampah plastik yang menumpuk. Jika dalam satu kecamatan terdiri dari
25 sekolah setiap tingkatan kalikan saja. Belum lagi di daerah-daerah lain di
Indonesia.
Secara jujur memang diakui bahwa
plastik menjadi komoditi perdagangan yang tidak dapat dipisahkan. Mulai dari
kantong plastik, botol minuman, kemasan makanan, sampai dengan gorengan yang
dicampur dengan bahan plastik. Begitu ketergantungannya masyarakat akan benda
yang satu ini pemerintah di berbagai daerah bekerja sama dengan pengusaha mini
market mencanangkan kantong plastik berbayar dengan harapan akan menekan laju perkembangan
sampah plastik di masyarakat. Berbagai upaya dilakukan akan tetapi dalam
kehidupan sehari-hari pengunaannya justru semakin meningkat dan menambah
problem lingkungan yang semakin pelik. Persoalan plastik akhirnya menjadi
persoalan penyumbang terbesar pencemaran lingkungan sekaligus bahaya laten bagi
kehidupan manusia terutama di negara berkembang dan terbelakang.
Selain
dampak buruk bagi pencemaran lingkungan di muka bumi ini, plastik juga sudah
menjadi bagian gaya hidup masyarakat seperti operasi plastik yang saat ini
menjadi trend fashion hiburan. Seakan ingin menampik keberadaan plastik sebagai
limbah yang mengganggu justru beberapa public figure negeri ini ikut-ikutan
andil berlomba-lomba mengubah bentuk wajah maupun penampilannya demi tuntutan
pasar hiburan. Dengan dalih untuk menyempurnakan kekurangan secara ragawi.
Alhasil mereka tak segan-segan membeberkan tindakannya itu sebagai bentuk
menunjukan prestise kelas social “yang
mampu” membayar mahal demi sebuah
kesempurnaan. Karena untuk operasi plastik harus merogoh kocek yang tidak
sedikit.
Setiap
sejarah meninggalkan jejaknya. Seperti zaman batu, zaman perunggu, dan pada
akhirnya perlu kita pertanyakan apakah kita saat ini benar-benar menjadi
generasi plastik yang meninggalkan jejaknya berupa limbah dan bencana
lingkungan yang tak berkesudahan. Ini memang sebuah problema yang perlu dicari
jalan keluarnya agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan, baik pengusaha,
pengguna, dan dampak buruknya, terutama terhadap lingkungan sekitarnya. Dampak
buruknya adalah tentu terhadap ‘kesehatan’. Oleh karena itu mulai sekarang kita
berpikir jernih agar generasi muda kita tidak terlanjur masuk dalam sejarah
generasi plastik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar