SUMINI
Oleh Ngatmiyatun, S.Pd.
Oleh Ngatmiyatun, S.Pd.
Hujan malam ini senandungkan lagu riang katak yang sebentar lagi beranak pinak. Juga nyamuk yang sedang naik daun menjadi bahan perbincangan manusia. Bagaimana dengan kopimu sayang? apa kau juga turut trauma menyeruputnya di malam dingin memanja, karena Si Anida yang diam-diam menyelinap atau karena Sarinah yang seksi menyembulkan nafsunya. Ini bagian dari dendangku memagut rindu dirinai hujan yang mulai menggigilkan deru rindu.
Lagi-lagi rindu itu sangat
kurang ajar, meski sudah kututup rapat setiap rongga kamarku. Dia datang tanpa
permisi. Menyelinap masuk mengisi cangkir kopiku malam ini. Mengharap kau teguk
dalam-dalam sampai ampas penghabisan. Sesekali kulihat senyummu hadir di cangkir
itu. Ntah itu sebuah pertanda kau tak lagi manis seperti tegukan pertama. Apakah
mungkin kau sudah gantikan cawanmu dengan melati putih di teh manismu?
mengakhiri seluruh memory tentang hujan yang semalam kita ciptakan.
Hujan itu air yang
sama seperti kemarin. Gaungan guntur lah yang sepertinya membuat hujan kali ini
berbeda. Ada sedikit kegalauan yang terekam sangat apik. Dan aku berharap kau
di sana tau pesan yang terbaca dari gemuruh itu. Itulah hatiku Raden. Meski
gemuruh hujan melunturkan jejakmu di pelataran ini. Namun rindu itu tetap
membekas sampai engkau benar-benar kembali. Kalender nadi tetap mencatatmu
sebagai tamu istimewa.
Ingin rasanya kuceritakan pada hujan. Ada ribuan
bulir rindu yang menggenang. Menyublim diantara mentari yang tak kunjung tiba.
Rona keemasannya mengisyaratkan luka yang terpendam. Memendam rindu yang tak
berkesudahan. Hadirmu gaib meski semua diluar kewajaran. Masih ingin berteriak
pada hujan malam ini, harapan terhampar meski harus melawan keterluntaan.
Digaris waktu tak pernah menemu titik jemu. Tentang jawabmu yang tersapu sayup
bayu. Dalam rinai hujan pun kupeluk bayangmu yang membiru. Rindu tempias
menghujani mata yang mulai basah. Ada sedikit cawan yang kau sembunyikan di
antara senyumu yang tak biasa. Inikah jawaban atas deru rindu tak bermuka sayang?
Ataukah kau coba gantungkan bayangan itu diantara semak yang semakin belukar?. Bagaimana harus kukatakan rindu ini pada
hujan kekasihku, sementara dingin yang menggigilkan jiwa menagih rindu untuk
kau peluk. juga gemeretuk gigi yang saling berhimpit ingin menelan saja rasa
yang semakin membuncah hebat dikegelapan malamnya. Di sudut kelambu raga ini
terus meringkuk, menerjemahkan kata yang terus mendesak. Kau bagian dari hujan
itu. Setiap bulirnya masuk mengisi pori-pori rasaku. Desauan angin ingin tahu
saja isi kamarku yang menyenandungkan rindu bertalu-talu. Aku sampai lupa menaruh rinduku
dimana? pada kerlip lampu kutanya pun tak berucap. Di dinding kamar pun seakan
memekat, atau kau bersembunyi di balik bantal lusuh itu?dan menemuiku dimimpi
malam? sampai pukul satu dini hari kujemput namamu tak jua datang. Sampai
mentari datang menyeruak dengan sesahutan nuri. o, rindu aku benar-benar lupa
jejakmu ntah kemana.
Aku benar-benar ingin membakar rindu itu seperti kayu
menjadi abu, menyatu. Seandainya ragamu bisa kumasukkan dalam diriku menjadi
satu. Pesonamu itu seperti degup yang tak berkesudahan di jantungku meski semua
tidak rasional. Bagaimana caranya menghapus parasmu di hatiku. Sedangkan dirimu
sudah menyatu dalam aliran darah disekujur tubuhku. Cinta tak pernah bersalah, dia hinggap ditaman-taman hati
manusia meski sampai saat ini tak pernah tau siapa yang menanam dan dari mana
benih itu. Juga
jangan kau pertanyakan warnanya sekalipun dari jenis apa. Ketika jarak adalah
ukuran pandang kau tetap melekat kuat tak
berjarak. Mana mungkin kau kulupakan sedangkan
dirimu menyatu dalam aliran darahku sampai detik ini. Ini titipan
Tuhan bukan sebuah kegilaan.
Degup jantung itu berpacu meski kadang roda-roda itu
kini menua dan rantainya sering loss
karena karat yang mendaki. Binar matamu mengisyaratkan rindu yang mengalir air dengan
derasnya. Entah bendungan aksara itu mampu menampung atau menjadi kawah candra
di muka. Lagi-lagi parit hati sudah terisi penuh nama yang berjejal di bilik-biliknya.
‘Raden Mas’. Iya kusebut Raden Mas. Nama yang sangat indah. Karena di kampung Semanu
ini menjadi seorang anak pejabat yang berpendidikan tinggi sudah sepantasnya
disebut priyayi dengan segala title yang disematkan di perguruan tinggi. Orang
yang tahu segala hal termasuk soal cinta. Mungkin semua itu terlampau kurang
ajar bagi seorang gadis seperti aku, Sumini. Gadis kampung yang jauh dari
pendidikan mengharapkan secawan cinta dari anak priyayi.
Kemarau yang panjang tahun lalu menjadi saksi.
Daratan pegunungan kampung ini mengering dan makin beku saja dalam persidangan
musim. Kau datang menghapus rindu anak-anak kampong bermandi cerita. Kau adalah
hujan itu Raden. Pertemuan kita di pancuran tendon air itu seakan menyibak
tirai hatiku yang tak pernah terjamah dari lelaki manapun. Tak kupedulikan
siapa kamu dan statusmu apa. Semua tampak sempurna.
Sudahlah, barangkali cinta itu semacam udara yang
adil dan legowo memberikan nafas panjang untuk siapa saja. Termasuk hinggap di pori-poriku
yang legam ini. Kampung hatiku benar-benar terisi teka-teki tentang tiki taka
cinta yang halus dan bening. Apakah rasa itu terus kugembalakan di perladangan?
Atau kusauhkan di pesisir di antara jejal batu karang? Sebab jika kukubur saja takut
akan menjadi zombie. Jika kupadamkan takut mematikanku dan jika kubantai takut
menjadi hantu yang terus menghantui lelap tidurku.
Biarlah rasa itu kubiarkan mengembara, menjadi
domba-domba menyelimuti jiwa-jiwa yang sepi dan mendingin. Karena musim kadang
memacu desaunya menyublim hingga minus derajat. Kau hadir menghidupkan bara
yang telah lama terkubur sebelumnya. Biarkan rasa itu menjadi puisi tentang
rinai embun dalam batok kepala dan menjadi kran dalam jantungku yang senantiasa
berdegup. Kran yang tetap mengalirkan rindu. Meski gemerciknya tak selalu di
tengah. Kadang menepi atau sekedar menempel di sarung solatmu. Hingga mengering
dan menjadi noda suci. Karena suatu saat nanti ketika tubuh ini benar-benar
kusyuk tanpa busana di hadapanNya, noda itu menjadi persaksian yang tak lagi
bisa dihapus.
Atau biarlah raga itu sekedar menjadi padasan yang
tak pernah mengharap upah. Meski setiap saat menampung rindu yang ia tumpahkan
sederas butiran hujan dari tiris atap. Tempat itu tak lekang oleh debit rindu
kecuali sang pemilik memecahkan tempayan itu benar-benar hancur berkeping.
Cinta itu mungkin terlalu kedodoran untuk kumiliki
Raden Mas. Kadang kuberkaca hati ini terlalu sesak menampung ribuan nyawa yang berjejal. Satu persatu
ingin mencuil saja hati yang kian menghitam warnanya. Aku hanyalah Sumini yang
selamanya tetap Sumini. Gadis kampung anak Pak Marwoto penjual burung pelatuk
di kampung Semanu.
Terlalu naïf kita nikmati perjamuan cinta ini,
bersanding di antara gemeretak ranjang yang sedari tadi ingin menjerit saja.
Beban itu terlalu berat hingga semua bermaklumat, pun lampu itu sedari tadi meredupkan
matanya. Seperti gelap ataukah kalap. Dalam hatiku berkecamuk inikah cinta yang
kalian bangun dari pakaian yang serba kedodoran. Hingga terlihat riak-riak
kegilaan. Compang camping tak bermuka.
Raden Mas, cinta itu telah membutakan akal kita. Nun
jauh di sana seorang perempuan berpangku tangan menyandarkan dagu menunggumu di
malam-malam biru. Biru memekat seperti dalamnya laut yang menenggelamkan
wanita-wanitamu ke angan yang melangit. Gemintang kadang berkerlip mengisyaratkan
mata yang memandang kita dari kejauhan. Rembulan pun ingin tahu banyak
menyelinap di dedaunan, ranting dan tanah tempat kita berpijak. Aku sangat
payah menanggung kegundahan rindu yang melindu sepanjang waktu. Angin laut juga
sepertinya ingin saja membedah hati kita, menyapunya habis yang kemudian
menghembuskan ke liang telinga wanita yang kau nikahi lima tahun silam.
Aku berharap rindu itu mempertemukan kita seperti pertemuan bulan dan matahari, meski
harus menunggu berpuluh tahun dalam rona gerhana. Takdirlah yang menyatukan keduanya
meski hanya beberapa saat.
Iya, Sumini namaku anak Marwoto! Di mana letak
keperawananmu? Apakah kau taruh di atas dinding kamar Bapakmu? Atau kau sudah
gadaikan bersama burung-burung pelatuk dagangan Bapakmu? Yang kemudian kau
meronta mencari di sela-sela kelambu. Apakah lelaki itu sudah membuat kelaminmu
benar-benar menghilang? Lalu perjamuan macam apa yang kalian lakukan di kamar
itu? Sumini, mereka tetap memanggilku tanpa koma, marga juga title.
Raden Mas, di suluh
janjimu kukuatkan temali gadisku. Biarkan hubungan ini kita rekatkan di antara
kaki langit menjulang tinggi ke awan. Setiap saat kau bisa mengambilnya di perjamuan
siang bersama mentari saat engkau singgah di kampung ini. Karena ketika malam
tiba kau harus pulang membawa rembulan untuk wanita berkalung rindu buah
hatimu.
Sumini tetap
namaku utuh tak terpenggal, menjadi simpanan rindu abadi. Di tampah-tampah
ibuku hati kupertaruhkan. Di atas jemuran kerupuk legendar dari sisa-sisa nasi
yang sedikit ditambah boraks akan lebih afdol sebagai pemanis cinta biar tahan
lama. Begitu perjamuan-perjamuan selanjutnya sedikit-sedikit kutambahkan boraks
dan pewarna tekstil sebagai pengganti darah keperawanan di atas dipan-dipan
yang mulai rapuh.
Raden Mas aku tetap setia diperapian cintamu. Cinta
yang tak pernah padam. Meski hujan terlalu deras mempermainkan api dan tungku
hatiku. Barangkali saat ini hanya dapat kutemui namamu di gemuruh udara. Signal
pegunungan ini terlalu mahal untuk menjumpai namamu. Barangkali ada angin jahat
yang cemburu membelokan rindu ini kebelantara hutan. Dan akhirnya mempermainkan
jantungku yang memompa rindu yang memanas.
Ada apa denganmu Raden?
Malam ini nada itu berdering kembali, sebuah misteri yang buatku ragu. Adakah
yang kau takutkan?. Beberapa pekan kau raib dan kini kau membisu cukupkah deringan itu sebagai
nada rindu atau teror yang mematikannya. Kubuka ponselku
perlahan sebuah kata mencambuk rinduku “Sayang mungkin kita sementara padamkan
permainan ini. Ada sebilah hati yang mulai mengintai perjamuan kita. Aku
berharap kau tampung rindumu beberapa waktu. Ku harap kau mengerti keadaanku”
Raden.
Sebait kata yang tak buat gentar sama sekali tuk cumbui
cintaku padamu Raden. Ini adalah pilihanku, bermain api dalam tungku istana
yang sudah kau bangun. Ingin memilikimu tanpa batas meski tembok itu batas yang
kokoh. Memenjarakanmu dan buat kita bagaikan di dalam jeruji. Terlalu sulit
untuk kuuraikan tentang rasa ini. Mencintai seorang lelaki yang sudah beristri.
Bukanlah alasan aku tak laku lantas menjadi perawan tua yang tak bisa memilih
seorang perjaka muda. Tapi hatiku sudah terlanjur mencintaimu.
Tiga
purnama kita lewati Raden. Meski hanya tegur sapa lewat udara merangkai cerita
yang tercecer kutekuni setiap nafasnya. Karena rinduku tak berupa menjelma aksara mati yang menyelubungi. Biarkan ku merindumu dalam diam memelukmu dengan tangan
rembulan. Kadang keramaian buatmu lupa
akanku dan rindu itu singgah diranjang
yang ia suka.
Kubuka lembaran-lembaran media sosialmu barangkali kutemukan rinduku yang
bergumpal di sana. Di bawah tuts keyboard putih yang kau tinggalkan. Bait-bait
tersenyum dengan mesra membelai hatiku penuh gairah.
Untuk
Suminiku
Tiap Huruf Kutulis dengan hati berdebar
Takutku akan
pergimu
Kuakui kau
memberiku banyak arti
Tapi aku belum
siapa-siapa
Belum mampu berikau
ini itu yang bermakna
Tapi sungguh,
bahagiamu adalah bagian terpenting dari pemenuhan cintaku
Kukan bayar lunas
sayangku dengan terbaikku untukmu
Hanya untukmu, tak
peduli waktu
Tidak cukupkah hati
dan jiwaku dalam helaan nafasmu?
Apa kau tak rasa
kalauku tiap waktu menekunimu
Dalam hatimu adaku
Tiada kata lain aku
teramat mencintamu tanpa batas waktu
Tidak ada yang
perludikhawatirkan
Bukankah memberi
semangat adalah bagian terkecil dari cinta?
Bukankah memberi
tanpa harap menerima adalah kata lain cinta?
Bukankah hatimu
telah jujur akanmu?
Tanpamu kubukan apa
apa
Harapku tidak
mengada-ada
Ijinkan aku
mencintaimu secara sederhana
Seperti juga kayu
yang abu karena api
Seperti angin yang
hilir pada musim
Dan keputusan
adalah kata sepakat
Harapku di
kedalaman hatimu bisa mencerna
Seberapa besar
cintaku untukmu
Mungkin cukup untuk
sekedar sisakan ruang tunggu tanpa jemu
Sebab hariku adalah
dirimu
Raden mas, Februari
2016
Bait-bait itu menguatkanku seperti nyawa yang selalu
menghidupkan cerita rinduku entahlah.
Bapak, maafkan aku, setiap lelaki yang datang
meminangku hati ini seakan mati. Ada rasa yang berkecamuk hebat. Dan aku sangat
membenci semua ini. Karena aku tak mampu memberikan kebahagiaan untuk
Bapak. Apakah aku benar-benar terkena
racun berbisa? Racun itu menjalar menyelubungi setiap lubang pori dan entah
dari mana datangnya. Bayangan itu selalu menerorku. Bayangan yang buat nalarku
ini tidak rasional. Lelaki
berjambang dengan senyuman api. Aku makin terbakar saja di perapian cinta yang
sulit kupadamkan. Rindu yang mengkristal di lelangit kamar karena sampai detik
ini aku bukan siapa-siapa.
Raden Mas, aku tetap menunggumu dalam rinai hujan
hingga musim kemarau tiba. Berharap cinta kita terus bersemi bersama rumput
halaman pekarangan ini. Sampai waktu benar-benar tak lagi cemburu. Karena
semesta begitu siri memandang kita dengan mata rembulan. Entah di ujung purnama
keberapa wajah kita benar-benar utuh menyinari bumi hatiku yang tak pernah
rapuh. Aku Suminimu tetap setia menjadi wanita eraman dalam sangkar. Entah
sampai kapan, kita nikmati saja perjamuan cinta di bawah kolong melepas waktu
yang terus bergulir di antara siang dan malam. Menabuh cinta dan kerinduan yang
selalu menyala dalam sekam dan abu.
***
SINOPSIS
Sumini seorang gadis yang berusia 27 tahun tinggal
di kampung Semanu Gunung Kidul. Dia seorang gadis desa yang hanya menamatkan
pendidikannya sebatas sekolah dasar. Ayahnya bernama Marwoto seorang penjual
burung di pasar tradisional wonosari. Sumini menggilai seorang lelaki yang
sudah beristri. Cintanya berawal ketika musim kemarau. Saat itu lelaki yang ia panggil
dengan sebutan raden menjadi donator air bersih di kampung itu. Lelaki itu
berprofesi sebagai dosen sekaligus pemilik Lawyers Group terkemuka di Semarang.
Jam terbang raden sebagai dosen sekaligus lawyers yang cukup tinggi membuat
pertemuan keduanya sangat susah. Apalagi raden mas diketahui sudah beristri di
kota tua itu. Hal itu tak menyurutkan hati keduanya untuk menjalin hubungan. Terlebih
Sumini tak pernah gentar mengejar cintanya untuk lelaki pujaannya itu.
Dalam cerpen ini Sumini menceritakan pengakuan
cintanya yang mendalam. Bukan lantaran ia gadis tua yang tak mampu mencari
perjaka muda seperti harapan keluarganya. Tapi pesona raden lah yang mengunci
pintu hatinya untuk lelaki lain. Sumini rela menjadi kekasih gelapnya raden mas
meski kerinduannya itu siap tersayat sembilu setiap saat, karena harus
menantang bilah-bilah pisau juga api yang siap membakarnya hidup-hidup.
Mereka tetap optimis menjalani perjamuan cintanya
sampai menunggu waktu yang tepat. Sampai semesta benar-benar merestuinya hingga
musim kemarau selanjutnya.
Cerpen SUMINI mendapatkan apresiasi Juara 1 dalam event rindu dan hujan yang diadakan oleh penerbit Viar Jakarta 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar