Kamis, 19 Mei 2016

Naskah Drama


DEBU
Prolog
Kemarau mengantarkan debu ke pori-pori hati manusia. Meliuk tersengal bergelut dengan oksigen yang semakin enggan mendekat. Tanah merekah pecah-pecah menyedot mimpi petani sawah. Debu terbang mengabarkan masa tentang keangkuhan hati yang bersemayam di nadi dan detak jantungnya.

Babak I
Disibaknya kelambu putih yang menutupi jendela kayu tak berkaca. Udara lembab menyeruak bersama butiran-butiran debu yang mengkristal. Maisarah menatapnya penuh makna.
Maisarah          : “Udara semakin kering musim rupanya sedang menertawakanku”.
Salbiah            : (sambil menyulam tapih yang robek) “Musim itu sangat indah, Maisarah. Dia    datang silih berganti membawa kegembiraan untuk manusia. Kadang manusia serakah. Menghakimi musim yang tak bersalah. Debu mengabarkan manusia meski banyak sekali yang menghilangkan jejak-jejaknya di tubuh dan barang-barangnya.”
Maisarah          :“Tapi, Ibu. Musim ini semakin menambahkan kegalauan hatiku yang mengering”.
Dielusnya perut Maisarah yang semakin membuncit. Laki-laki  biadab yang menghamilinya semakin kabur ditelan waktu.
Salbiah            :”Debu-debu itu murni terbang tanpa disuap, disapu tanpa rasa marah. Sesungguhnya hati merekalah yang kotor. Dengan bangga menampik kedatangan debu yang tak bersalah. Begitu banyak rahasia Tuhan menciptakannya, Maisarah”.
Perlahan Maisarah duduk dikursi kayu yang ntah sudah berapa tahun dipahat ayahnya.
Maisarah          :”Ntah berapa lama aku bisa bertahan menyembunyikan debu-debu yang menggumpal di tubuh ini. Ntah berapa lama aku harus menimbun kekeringan yang menguras keringat dan air mata. Ntahlah, Ibu.
Salbiah            : “Debu itu nadi manusia. Tapi manusia menyangkalnya. Dan entah sampai kapan manusia-manusia itu lupa akan asalnya.” (sambil menggeleng-gelengkan kepala)
 Salbiah memeluk putrinya. Sambil melantunkan gurindam dengan lirih nan syahdu. Dia tahu ini bukanlah salah Maisarah. Ini ujian takdir yang mengharuskan putrinya menerima hadiah tuhan kepada umatnya.
Barang siapa memelihara dendam di hati
Samalah dia terpanggang diri

Agarlah membuang rasa dendam
Supaya hidup menjadi tentram

Bilalah dendam sudah terasa menjarah
Sadarlah diri dan astagfirullah
                                    Gurindam Dendam, Iberamsyah Barbary

 Babak II
Di pembaringan kayu segala mimpi buruk itu dimulai. Maisarah selalu dihantui bayang-bayang laki-laki yang senantiasa menerornya disetiap mimipi-mimpi tidurnya. Entah dia sedang bermimpi atau sedang berhalusinasi. Malam itu sangat menyeramkan. Angin bergemuruh pembaringan itu seakan tergoncang bak gempa local yang menakutkan. Diantara kelambu yang tersingkap munculah sosok laki-laki misterius.
Maisarah          :”Siapa, kau? Kenapa engkau tak henti-hentinya menerorku?
laki-laki           :“Perkenalkan namaku debu. Debu yang tak pernah kau harapkan. Debu yang senantiasa kau hapus dari kehidupanmu. Debu yang kotor. Debu yang tak sedap dipandang mata. Debu yang menjadi polusi dan kau coba hapus dan musnahkan.”
Maisarah          :”Terus apa yang kau harapkan dariku?”
Laki-laki          :”Aku datang dikirim Tuhanku. Memberimu sedikit rindu. Segumpal pengharapan. Secercah harapan. Sebongkah cinta.”
Maisarah          :“Apa! Cinta kau bilang? Tidak! Kau datang hanya untuk membunuhku! Enyahlah dari tempatku, karena aku tak pernah mengharapkan kedatangnmu wahai debu”.
Anak laki-laki  :”Aku akan bersemayam di tubuhmu sampai engkau benar-benar menerimaku.”
Maisarah          :”Kenapa kalian menghukumku, apa salahku? Kau sengaja mengejeku.”
Anak laki-laki  :”Aku datang untuk menjagamu sampai akhir hayatmu nanti.”
Maisarah          :”Menjaga!? Hahaha (tertawa dalam ketakutan) Kau debu yang mengibaskan jejak kaki-kaki srigala hingga menimbun tubuhku! Pergi! Pergi!”
Maisarah menutup telinganya keras-keras ia berteriak sekencang-kencangnya. Bayangan itu semakin menghilang beserta gemuruh angin yang menggelegar. Salbiah terbangun mendapati putrinya penuh keringat dengan napas tersengal-sengal.

Babak III
Di gubuk bambu di antara pematang sawah, Maisarah menatap tanah-tanah merekah. Menanti musim berganti. Di mana-mana gersang seperti hatinya yang semakin tandus. Tiba-tiba muncul sosok laki-laki yang mengusik pergulatan hati dan pikirannya.
Bunyamin        : “Adakah yang lebih kotor dari debu-debu itu?”
Maisarah          : ”Ada. (dengan suara perlahan menatap garis-garis pematang yang meranggas tak bermahkota) yaitu hatimu, hatimulah yang sebenarnya debu!”
Bunyamin        : (Dengan gelak tawa yang meradang) “Maisyarah, maisyarah…, lihatlah dirimu! Saat ini kau mengandung. Lalu apakah itu tidaklah kotor, ha? Lalu siapa yang menjadi bapaknya, hahha? Debu-debu itu? Hahha!”.
Maisyarah        :”Aku tak habis fikir, Bunyamin, otakmu biadab. Aku tahu kaulah yang merencanakan semua itu!”
Bunyain           :”Lalu  bukankah engkau menikmatinya?” (sambil menyentil hidung maisyarah dengan telunjuk).
Maisyarah        :”Tutup mulutmu, Bunyamin! Kau sengaja menyuruh mereka merampas kesucianku karena dendamu kepada ayahku, bukan?”.
Bunyamin        :”Hmm…, anak manis, apa yang kau tahu dari ayahmu, he!?”. “Ayahmu itu tengik, dia yang merampas ibuku dari ayahku.”
Maisyarah        :”Lalu apakah aku yang kau jadikan umpan untuk membalas semua itu, Bunyamin? Tidakkah kau pernah tau ibuku juga tersakiti? Sekarang kau sakiti hati perempuan yang sama sekali tak tahu apa-apa? Jawab, Bunyamin!”
Bunyamin        :”Kamu mau tahu jawabannya? Karena kamu adalah darah daging Matsani. Dan Matsani harus menanggung semua sakit hatiku!”
Maisarah          : (menghampiri bunyamin dengan sekejab menampar wajahnya) “Biadab!”
Bunyamin        : (melangkah mendekati Maisarah tertawa lepas) ”Hahha, kenapa Maisyarah kamu marah? Ayo, tampar lagi! Sekarang aku puas karena anak Matsani saat ini tak lebih debu yang kotor!” (melangkah pergi dengan gelak tawa yang semakin menyeringai bagaikan srigala yang puas menerkam buruannya)
Maisarah tersedu hatinya semakin hancur. Tak ada yang harus dimintai pertanggungjawaban. Manusia-manusia itu bagaikan srigala yang menerkam dagingnya secara perlahan-lahan dan membuatnya koma selama-lamanya.
Maisarah          :”Debu kamu harus pergi menjauh dari kehidupanku. Kamu kotor. Kamu memalukan?” (sambil terisak dan meremas perutnya)


Babak IV
Kesunyian malam seakan mengabarkan rasa. Rasa yang semakin hilang memudar diterpa debu-debu panas. Di kursi kayu tempat Maisarah menyandarkan bahunya yang berat terhujam debu-debu panas.
Salbiah            :”Maisarah, makanlah. Jangan kau hukum dirimu. Biarkanlah debu itu bersemayam untuk beberapa waktu.”
Maisarah          : “Ibu, maafkan aku aku sudah tidak tahan menampung debu-debu ini. Debu ini sangat berat dan keras.”
Salbiabuah       :”Apakah kau tahu debu itu dikirim Tuhan untuk menyucikan hati manusia. Keserakahanlah yang membuat namanya kotor dan hina. Manusia diciptakan dari tanah. Dan debu adalah butiran-butiran tanah yang murni.”
Maisarah          : “Aku harus secepatnya menghilangkan debu ini dari tubuhku, Ibu. Sebelum Kang Jamal pulang ke kampung ini. Aku tak ingin kebahagiaanku pergi gara-gara debu yang belum kubersihkan dari tubuhku.”
Salbiah            : ”Jangan, jangan pernah kau hilangkan. Ibu akan tetap mempertahankannya. Biarlah debu itu menjadi mutiara yang akan berkilau di masa depan. Jamal? Biarlah ibu yang akan menjelaskan semuanya.”
Maisarah          :”Entahlah, aku tak yakin Jamal mengerti keadaanku.”
Salbiah            : “Berkatalah sejujurnya dengan kekasihmu itu, Maisarah. Jangan kau tipu cinta kalian dengan menghilangkan debu-debu tak bersalah itu. Buktikan kemurnian cinta kalian dengan menerima debu sebagian dari kebahagiaan kalian.”
Maisarah          : (dengan suara berat Maisarah menyetujui permintaan ibunya) “Iya…,akan kucoba, Ibu, meskipun aku harus mengmpulkan keberanianku sebesar gunung.” (Salbiah mengusap rambut anaknya dengan penuh keyakinan)


Babak V
Semilirnya angin berhembus menyelinap di antara rambut Maisarah yang terurai. Memberikan kesejukan yang telah lama dinantikan. Meski musim belum terganti. Dan masih banyak debu bercampur abu pembakaran. Manusia penjamah hutan perawan hingga menjadikannya hancur berkeping. Siang itu di teras rumah Maisarah dan Kang Jamal melepas kerinduan yang lama bergumpal. Suasana itu terasa aneh ntah mengapa terik mentari menambah dahaganya hati Maisarah. Tenggorokannya seakan tercekak mengeluarkan kata-kata yang ia kumpulkan dari nyalinya pasang surut.   
Maisarah          : “Kang Jamal, kerinduanku tak pernah padam meski musim yang kau tinggalkan sudah lama berganti. Dan aku sangsi apakah kau masih mengenalku di antara debu-debu yang membuat hidungmu tersumpal oleh cadar.” (tatapan Maisarah lekat-lekat terhadap kekasih hatinya itu)
Kang Jamal     : “Maksud kamu apa, Maisarah? Rasa yang telah lama kita pupuk kian subur dan mungkin saatnya memanen. Apa yang membuatmu berubah?” (Kang Jamal membalas tatapan itu tak mengerti)
Maisarah          :”Tapi semua telah berubah, Kang. Aku semakin dalam tercabik oleh musim yang menjadikan aku benar-benar menjadi abu di antara debu-debu itu.” (dengan cepat Maisarah memalingkan mukanya menerawang diantara debu-debu dijalanan).
Kang Jamal     :”Ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu, Maisarah.”
Maisarah          :”Tidakkah kau lihat sesuatu yang ada di tubuhku, Kang. Lihatlah perut yang membuncit ini. Aku sudah tiga bulan menampung debu-debu kiriman musim ini. Dan aku tak tahu apakah aku harus kuras debu-debu ini secepatnya. Atau membiarkannya terus menggunung sampai musim penghujan tiba.”
Kang Jamal     :”Maksudmu, kau hamil? Tidak, Maisarah! Apakah kau merusak rasa yang setiap kali kupupuk di antara siang dan malam hingga aku kembali? Apakah kau menghianatiku, Maisarah?”
Maisarah          : “ Rasa itu selalu aku pupuk dan tetap subur adanya, Kang. Entah mengapa lading yang seharusnya milikmu kini dirampas oleh sekawanan srigala yang beringas. Aku tak mampu melawan serigala-serigala itu. Mereka pergi dan membiarkan tubuh ini tercabik hingga aku harus koma selama-lamanya. Aku diperkosa!”
Kang Jamal     : (menatap dalam-dalam Maisarah) Katakan siapa yang melakukannya, Maisarah! Akan kukejar meski sampai ke lubang srigala!”
Maisarah          : “Percuma, Kang. Srigala itu kini telah berubah wujud. Serigala itu menuntut balas kepada sang macan. Dan sayangnya macan itu kini telah mati. Dan aku adalah titisan darah macan itu.”
Kang Jamal     :”Maksudmu ini adalah bagian dari dendam?”
Maisarah          :”Iya. Ini adalah balas dendam. Dan aku yang harus menanggungnya, Kang”.
Kang Jamal     :”Biadab! (Kang Jamal mengepalkan tangan meninju tiang teras itu seakan serigala ada dideannya) Tapi, Maisarah, jangan kau buang debu itu. Meski kau sangat membenci srigala-srigala itu. Debu tak pernah bersalah. Debu itu suci dan menyucikan.”
Maisarah          :”Tapi, Kang…! (sambil menatap jamal erat-erat Maisarah tak yakin dengan ucapan kekasihnya)
Kang Jamal     :”Iya, jangan pernah kau buang debu itu. Aku akan segera menikahimu sebelum debu-debu itu lahir dari rhimmu, Maisarah”
Maisarah          : “Kau yakin dengan ucapanmu, Kang?” (Kang Jamal hanya mengangguk meyakinkan Maisarah. Maisarah memeluk Kang Jamal dengan penuh haru dan rasa yang tak terhingga dilukiskan dengan kata-kata)



Babak VI
Nyanyian burung hantu dan gesekan dedaunan diantara malam yang pekat mengantarkan dua sejoli menikmati malam pertama. Meskipun malam itu tidaklah malam yang mengesankan seperti pasang mudamudi pada umumnya. Disibaknya tabir cintanya yang kini tidak utuh. Barang kali ini adalah ujian cinta keduanya memanen rindu yang terbelenggu diantara mimpi-mimpi malam. Kelambu putih itu seakan panggung yang menampakan siluet malam dibawah temaram lampu minyak dengan api bergoyang-goyang mengepulkan asap memberikan bercak hitam dilangit-langit kamar. Kedua sejoli berpagut merekatkan serpihan cinta yang tercecer.
Maisarah                      :”Maafkan aku, Kang. Meskipun ragaku kini tak seutuh yang kau harapkan. Namun malam ini adalah malam paling bahagia engkau ada untuk menyemai ladang yang sebelumnya ditumbuhi rerumputan liar.”
Kang Jamal                 : (dengan telunjuknya Kang Jamal berusaha menutup bibir Maisarah dengan penuh kasih) “Stt …, sudahlah, Maisarah! Jangan kau ungkit-ungkit lagi. Akang bahagia bisa memilikimu seutuhnya. Kini kau adalah bidadariku menghiasi hidupku sampai akhir hayat nanti.”
Kedua sejoli itu larut dalam keheningan malam yang penuh kerinduan. Sayup sayup terdengar suara Salbiah melantunkan syair gurindam mendayu-ndayu.
Setiaplah kejadian, proses tempaan
Sebagai pengalaman dan pembelajaran
Setiaplah kejadian, proses kehidupan jadilah elok dalam tempaan
Setiap tempaan dihayati kesadaran
Kelak terlihat kemahabesaran tuhan
Selalu bertasbih subhanallah
Ucapkan selalu senantiasa Alhamdulillah

Gurindam tempaan hidup, iberamsyah Barbary

Babak VII
Langit tampak gelap angin pun mengabarkan rasa sejuk. Musim penghujan sudah diambang penantian. Ranting-ranting pohon tampak dengan indahnya dihinggapi burung-burung yang sebentar lagi berpesta menyambut dedaunan muda. Kupu-kupu pun bersuka cita menyambut kedatangan bunga. Rintik hujn menebarkan bau tanah semerbak. Menelusup dalam hati. Debu-debu luruh berganti embun kemurnian. Maisarah menanak nasi liwet dengan perut bak gunung yang menjulang tinggi. Sesekali dipegangi punggungnya yang sedikit-sedikit terasa ngilu.
Maisarah                      :”Aduh…, mulas sekali perutku, (gumamnya lirih) Ibu ! (dengan perlahan Maisarah memanggil ibunya yang sedang sibuk menampi beras. Kang Jamal pun sibuk mengeluarkan burung perkutut piaraannya). “Sakit sekali rasanya perut ini, Bu!”
Salbiah                        :”Oh, anakku! Sebentar lagi debu-debu itu akan luruh bersama hujan-hujan itu, anakku. Tenanglah, Ibu, akan membantumu. Berbaringlah, anakku. (Salbiah menuntun Maisarah kepembaringan). “Jamal, kesinilah sebentar, anakku!”
Kang Jamal                 :”Maisarah! (secara perlahan jamal mendekati istrinya yang sedang meregang rasa sakit. Diciumnya keningnya yang berkeringat).  Tenanglah sayang, anak kita akan lahir. Kamu akan menjadi ibu, istriku. (jemari Maisarah meremas dengan kuat tangan Jamal. Di luar sana hujan semakin deras disertai petir yang menggelegar. Debu itu kian luruh tersapu hujan mengalir di sungai-sungai yang warnanya bak susu coklat. Suara tangisan bayi sayup-sayup terdengar bersahutan seiring bunyi petir yang mendayu-dayu. Seorang bayi mungil laki-laki terlahir dari rahim Maisarah).
Salbiah                        :”Lihatlah, anakku, makhluk ini sangat murni. Halus lembut bak debu yang suci. Tangisnya merdu melantunkan syair-syair Tuhan kepada umatnya.”
Kang Jamal dengan segera melantunkan suara azan di telinga bocah mungil tu.
Dengan suara lirih digendongnya bocah yang bukan darah dagingnya itu penuh kasih.
Kang Jamal                 :”Maisarah, bolehkan aku memberikan nama terindah untuk calon pemuda tampan ini?”
Maisarah                      : (dengan senyuman yang tersungging bahagia Maisarah pun menjawab dengan mesra) “Sudah barang tentu, suamiku.”
Kang Jamal                 :”Debu Arang. Ya, Debu Arang nama yang kusematkan untuk putraku ini.”
Dengan tangis bahagia Maisarah merengkuh kebahagiaan. Kehadiran debu  yang sering dianggap kotor dan mengganggu kini menjadi debu yang murni, kesuciannya mengubah pola pikir manusia yang sok suci. Mendiskreditkan debu sebuah sampah, aib, dan menjijikan. Itulah mengapa Tuhan telah memerintahkan umatnya bersuci dengan debu (tayamum) di kala hujan enggan menyapa. Juga mensucikan segala najis besar dengan debu pada hakikatnya debu adalah serpihan tanah dan manusia pada hakikatnya berasal dari tanah. Lalu apa yang patut disombongkan dari segumpal tanah sehingga menjadi musuh dan pembangKang yang nyata.
Bilalah malam semakin gelap, angin berhembus tiada berpihak
Jangkrik dan burung penghias malam
Malam yang senyap pelelap jiwa
Bila hidupmu penuh prasangka, hatimu gundah tiada tertata
Bila gundahmu sudah meraja, matilah jiwa tiada bersu  ka
Syair kehidupan Ngatmiyatun

Catatan            :
Kang (akang)                          : sebutan kakak laki-laki masyarakat sunda dan jawa
            Huruf miring diapit kurung     : tindakan tokoh setiap adegan maupun babak


Naskah DEBU mendapatkan apresiasi Juara 2 di event penulisan drama modern tingkat umum Se-kalimantan selatan yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata Banjarbaru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar