DEBU
Prolog
Kemarau mengantarkan debu ke pori-pori
hati manusia. Meliuk tersengal bergelut dengan oksigen yang semakin enggan
mendekat. Tanah merekah pecah-pecah menyedot mimpi petani sawah. Debu terbang
mengabarkan masa tentang keangkuhan hati yang bersemayam di nadi dan detak
jantungnya.
Babak I
Disibaknya kelambu putih yang
menutupi jendela kayu tak berkaca. Udara lembab menyeruak bersama
butiran-butiran debu yang mengkristal. Maisarah menatapnya penuh makna.
Maisarah : “Udara semakin kering musim rupanya
sedang menertawakanku”.
Salbiah :
(sambil menyulam tapih yang robek)
“Musim itu sangat indah, Maisarah. Dia datang silih berganti membawa kegembiraan
untuk manusia. Kadang manusia serakah. Menghakimi musim yang tak bersalah. Debu
mengabarkan manusia meski banyak sekali yang menghilangkan jejak-jejaknya di
tubuh dan barang-barangnya.”
Maisarah :“Tapi,
Ibu. Musim ini semakin menambahkan kegalauan hatiku yang mengering”.
Dielusnya perut Maisarah yang
semakin membuncit. Laki-laki biadab yang
menghamilinya semakin kabur ditelan waktu.
Salbiah :”Debu-debu
itu murni terbang tanpa disuap, disapu tanpa rasa marah. Sesungguhnya hati
merekalah yang kotor. Dengan bangga menampik kedatangan debu yang tak bersalah.
Begitu banyak rahasia Tuhan menciptakannya, Maisarah”.
Perlahan
Maisarah duduk dikursi kayu yang ntah sudah berapa tahun dipahat ayahnya.
Maisarah :”Ntah
berapa lama aku bisa bertahan menyembunyikan debu-debu yang menggumpal di tubuh
ini. Ntah berapa lama aku harus menimbun kekeringan yang menguras keringat dan
air mata. Ntahlah, Ibu.
Salbiah :
“Debu itu nadi manusia. Tapi manusia menyangkalnya. Dan entah sampai kapan
manusia-manusia itu lupa akan asalnya.” (sambil
menggeleng-gelengkan kepala)
Salbiah memeluk putrinya. Sambil melantunkan gurindam
dengan lirih nan syahdu. Dia tahu ini bukanlah salah Maisarah. Ini ujian takdir
yang mengharuskan putrinya menerima hadiah tuhan kepada umatnya.
Barang siapa
memelihara dendam di hati
Samalah dia
terpanggang diri
Agarlah membuang
rasa dendam
Supaya hidup
menjadi tentram
Bilalah dendam
sudah terasa menjarah
Sadarlah diri
dan astagfirullah
Gurindam Dendam, Iberamsyah Barbary
Babak II
Di pembaringan kayu segala mimpi
buruk itu dimulai. Maisarah selalu dihantui bayang-bayang laki-laki yang senantiasa
menerornya disetiap mimipi-mimpi tidurnya. Entah dia sedang bermimpi atau
sedang berhalusinasi. Malam itu sangat menyeramkan. Angin bergemuruh
pembaringan itu seakan tergoncang bak gempa local yang menakutkan. Diantara
kelambu yang tersingkap munculah sosok laki-laki misterius.
Maisarah :”Siapa, kau? Kenapa engkau tak
henti-hentinya menerorku?
laki-laki :“Perkenalkan namaku debu. Debu yang tak pernah kau
harapkan. Debu yang senantiasa kau hapus dari kehidupanmu. Debu yang kotor.
Debu yang tak sedap dipandang mata. Debu yang menjadi polusi dan kau coba hapus
dan musnahkan.”
Maisarah :”Terus apa yang kau harapkan dariku?”
Laki-laki :”Aku datang dikirim Tuhanku. Memberimu sedikit rindu.
Segumpal pengharapan. Secercah harapan. Sebongkah cinta.”
Maisarah :“Apa!
Cinta kau bilang? Tidak! Kau datang hanya untuk membunuhku! Enyahlah dari
tempatku, karena aku tak pernah mengharapkan kedatangnmu wahai debu”.
Anak
laki-laki :”Aku akan bersemayam di
tubuhmu sampai engkau benar-benar menerimaku.”
Maisarah :”Kenapa kalian menghukumku, apa
salahku? Kau sengaja mengejeku.”
Anak
laki-laki :”Aku datang untuk menjagamu
sampai akhir hayatmu nanti.”
Maisarah :”Menjaga!?
Hahaha (tertawa dalam ketakutan) Kau debu
yang mengibaskan jejak kaki-kaki srigala hingga menimbun tubuhku! Pergi!
Pergi!”
Maisarah menutup telinganya
keras-keras ia berteriak sekencang-kencangnya. Bayangan itu semakin menghilang
beserta gemuruh angin yang menggelegar. Salbiah terbangun mendapati putrinya
penuh keringat dengan napas tersengal-sengal.
Babak III
Di gubuk bambu di antara pematang
sawah, Maisarah menatap tanah-tanah merekah. Menanti musim berganti. Di mana-mana
gersang seperti hatinya yang semakin tandus. Tiba-tiba muncul sosok laki-laki
yang mengusik pergulatan hati dan pikirannya.
Bunyamin : “Adakah yang lebih kotor dari
debu-debu itu?”
Maisarah :
”Ada. (dengan suara perlahan menatap
garis-garis pematang yang meranggas tak bermahkota) yaitu hatimu, hatimulah
yang sebenarnya debu!”
Bunyamin :
(Dengan gelak tawa yang meradang)
“Maisyarah, maisyarah…, lihatlah dirimu! Saat ini kau mengandung. Lalu apakah
itu tidaklah kotor, ha? Lalu siapa yang menjadi bapaknya, hahha? Debu-debu itu?
Hahha!”.
Maisyarah :”Aku tak habis fikir, Bunyamin, otakmu biadab. Aku tahu
kaulah yang merencanakan semua itu!”
Bunyain :”Lalu bukankah engkau menikmatinya?” (sambil menyentil hidung maisyarah dengan
telunjuk).
Maisyarah :”Tutup mulutmu, Bunyamin! Kau sengaja menyuruh mereka
merampas kesucianku karena dendamu kepada ayahku, bukan?”.
Bunyamin :”Hmm…,
anak manis, apa yang kau tahu dari ayahmu, he!?”. “Ayahmu itu tengik, dia yang
merampas ibuku dari ayahku.”
Maisyarah :”Lalu apakah aku yang kau jadikan umpan untuk membalas semua
itu, Bunyamin? Tidakkah kau pernah tau ibuku juga tersakiti? Sekarang kau
sakiti hati perempuan yang sama sekali tak tahu apa-apa? Jawab, Bunyamin!”
Bunyamin :”Kamu
mau tahu jawabannya? Karena kamu adalah darah daging Matsani. Dan Matsani harus
menanggung semua sakit hatiku!”
Maisarah : (menghampiri
bunyamin dengan sekejab menampar wajahnya) “Biadab!”
Bunyamin :
(melangkah mendekati Maisarah tertawa
lepas) ”Hahha, kenapa Maisyarah kamu marah? Ayo, tampar lagi! Sekarang aku
puas karena anak Matsani saat ini tak lebih debu yang kotor!” (melangkah pergi dengan gelak tawa yang
semakin menyeringai bagaikan srigala yang puas menerkam buruannya)
Maisarah tersedu hatinya semakin
hancur. Tak ada yang harus dimintai pertanggungjawaban. Manusia-manusia itu
bagaikan srigala yang menerkam dagingnya secara perlahan-lahan dan membuatnya
koma selama-lamanya.
Maisarah :”Debu
kamu harus pergi menjauh dari kehidupanku. Kamu kotor. Kamu memalukan?” (sambil terisak dan meremas perutnya)
Babak IV
Kesunyian malam seakan mengabarkan
rasa. Rasa yang semakin hilang memudar diterpa debu-debu panas. Di kursi kayu
tempat Maisarah menyandarkan bahunya yang berat terhujam debu-debu panas.
Salbiah :”Maisarah,
makanlah. Jangan kau hukum dirimu. Biarkanlah debu itu bersemayam untuk
beberapa waktu.”
Maisarah :
“Ibu, maafkan aku aku sudah tidak tahan menampung debu-debu ini. Debu ini
sangat berat dan keras.”
Salbiabuah :”Apakah kau tahu debu itu dikirim Tuhan untuk menyucikan hati
manusia. Keserakahanlah yang membuat namanya kotor dan hina. Manusia diciptakan
dari tanah. Dan debu adalah butiran-butiran tanah yang murni.”
Maisarah :
“Aku harus secepatnya menghilangkan debu ini dari tubuhku, Ibu. Sebelum Kang
Jamal pulang ke kampung ini. Aku tak ingin kebahagiaanku pergi gara-gara debu
yang belum kubersihkan dari tubuhku.”
Salbiah :
”Jangan, jangan pernah kau hilangkan. Ibu akan tetap mempertahankannya. Biarlah
debu itu menjadi mutiara yang akan berkilau di masa depan. Jamal? Biarlah ibu yang
akan menjelaskan semuanya.”
Maisarah :”Entahlah,
aku tak yakin Jamal mengerti keadaanku.”
Salbiah :
“Berkatalah sejujurnya dengan kekasihmu itu, Maisarah. Jangan kau tipu cinta
kalian dengan menghilangkan debu-debu tak bersalah itu. Buktikan kemurnian
cinta kalian dengan menerima debu sebagian dari kebahagiaan kalian.”
Maisarah :
(dengan suara berat Maisarah menyetujui
permintaan ibunya) “Iya…,akan kucoba, Ibu, meskipun aku harus mengmpulkan
keberanianku sebesar gunung.” (Salbiah
mengusap rambut anaknya dengan penuh keyakinan)
Babak V
Semilirnya angin berhembus
menyelinap di antara rambut Maisarah yang terurai. Memberikan kesejukan yang
telah lama dinantikan. Meski musim belum terganti. Dan masih banyak debu
bercampur abu pembakaran. Manusia penjamah hutan perawan hingga menjadikannya
hancur berkeping. Siang itu di teras rumah Maisarah dan Kang Jamal melepas
kerinduan yang lama bergumpal. Suasana itu terasa aneh ntah mengapa terik
mentari menambah dahaganya hati Maisarah. Tenggorokannya seakan tercekak
mengeluarkan kata-kata yang ia kumpulkan dari nyalinya pasang surut.
Maisarah :
“Kang Jamal, kerinduanku tak pernah padam meski musim yang kau tinggalkan sudah
lama berganti. Dan aku sangsi apakah kau masih mengenalku di antara debu-debu
yang membuat hidungmu tersumpal oleh cadar.” (tatapan Maisarah lekat-lekat terhadap kekasih hatinya itu)
Kang Jamal : “Maksud kamu apa, Maisarah? Rasa yang telah lama kita pupuk
kian subur dan mungkin saatnya memanen. Apa yang membuatmu berubah?” (Kang Jamal membalas tatapan itu tak
mengerti)
Maisarah :”Tapi
semua telah berubah, Kang. Aku semakin dalam tercabik oleh musim yang
menjadikan aku benar-benar menjadi abu di antara debu-debu itu.” (dengan cepat Maisarah memalingkan mukanya
menerawang diantara debu-debu dijalanan).
Kang
Jamal :”Ceritakanlah apa yang
sebenarnya terjadi dengan dirimu, Maisarah.”
Maisarah :”Tidakkah
kau lihat sesuatu yang ada di tubuhku, Kang. Lihatlah perut yang membuncit ini.
Aku sudah tiga bulan menampung debu-debu kiriman musim ini. Dan aku tak tahu
apakah aku harus kuras debu-debu ini secepatnya. Atau membiarkannya terus
menggunung sampai musim penghujan tiba.”
Kang Jamal :”Maksudmu, kau hamil? Tidak, Maisarah! Apakah kau merusak rasa
yang setiap kali kupupuk di antara siang dan malam hingga aku kembali? Apakah
kau menghianatiku, Maisarah?”
Maisarah :
“ Rasa itu selalu aku pupuk dan tetap subur adanya, Kang. Entah mengapa lading
yang seharusnya milikmu kini dirampas oleh sekawanan srigala yang beringas. Aku
tak mampu melawan serigala-serigala itu. Mereka pergi dan membiarkan tubuh ini
tercabik hingga aku harus koma selama-lamanya. Aku diperkosa!”
Kang Jamal : (menatap dalam-dalam
Maisarah) Katakan siapa yang melakukannya, Maisarah! Akan kukejar meski
sampai ke lubang srigala!”
Maisarah :
“Percuma, Kang. Srigala itu kini telah berubah wujud. Serigala itu menuntut
balas kepada sang macan. Dan sayangnya macan itu kini telah mati. Dan aku
adalah titisan darah macan itu.”
Kang Jamal :”Maksudmu ini adalah bagian dari dendam?”
Maisarah :”Iya.
Ini adalah balas dendam. Dan aku yang harus menanggungnya, Kang”.
Kang Jamal :”Biadab! (Kang Jamal
mengepalkan tangan meninju tiang teras itu seakan serigala ada dideannya) Tapi,
Maisarah, jangan kau buang debu itu. Meski kau sangat membenci srigala-srigala
itu. Debu tak pernah bersalah. Debu itu suci dan menyucikan.”
Maisarah :”Tapi,
Kang…! (sambil menatap jamal erat-erat
Maisarah tak yakin dengan ucapan kekasihnya)
Kang Jamal :”Iya, jangan pernah kau buang debu itu. Aku akan segera
menikahimu sebelum debu-debu itu lahir dari rhimmu, Maisarah”
Maisarah :
“Kau yakin dengan ucapanmu, Kang?” (Kang
Jamal hanya mengangguk meyakinkan Maisarah. Maisarah memeluk Kang Jamal dengan
penuh haru dan rasa yang tak terhingga dilukiskan dengan kata-kata)
Babak VI
Nyanyian burung hantu dan gesekan
dedaunan diantara malam yang pekat mengantarkan dua sejoli menikmati malam
pertama. Meskipun malam itu tidaklah malam yang mengesankan seperti pasang
mudamudi pada umumnya. Disibaknya tabir cintanya yang kini tidak utuh. Barang
kali ini adalah ujian cinta keduanya memanen rindu yang terbelenggu diantara
mimpi-mimpi malam. Kelambu putih itu seakan panggung yang menampakan siluet
malam dibawah temaram lampu minyak dengan api bergoyang-goyang mengepulkan asap
memberikan bercak hitam dilangit-langit kamar. Kedua sejoli berpagut merekatkan
serpihan cinta yang tercecer.
Maisarah :”Maafkan
aku, Kang. Meskipun ragaku kini tak seutuh yang kau harapkan. Namun malam ini
adalah malam paling bahagia engkau ada untuk menyemai ladang yang sebelumnya
ditumbuhi rerumputan liar.”
Kang Jamal : (dengan
telunjuknya Kang Jamal berusaha menutup bibir Maisarah dengan penuh kasih)
“Stt …, sudahlah, Maisarah! Jangan kau ungkit-ungkit lagi. Akang bahagia bisa
memilikimu seutuhnya. Kini kau adalah bidadariku menghiasi hidupku sampai akhir
hayat nanti.”
Kedua sejoli itu larut dalam
keheningan malam yang penuh kerinduan. Sayup sayup terdengar suara Salbiah
melantunkan syair gurindam mendayu-ndayu.
Setiaplah
kejadian, proses tempaan
Sebagai
pengalaman dan pembelajaran
Setiaplah
kejadian, proses kehidupan jadilah elok dalam tempaan
Setiap tempaan
dihayati kesadaran
Kelak terlihat
kemahabesaran tuhan
Selalu bertasbih
subhanallah
Ucapkan selalu
senantiasa Alhamdulillah
Gurindam tempaan hidup, iberamsyah
Barbary
Babak VII
Langit tampak gelap angin pun
mengabarkan rasa sejuk. Musim penghujan sudah diambang penantian.
Ranting-ranting pohon tampak dengan indahnya dihinggapi burung-burung yang
sebentar lagi berpesta menyambut dedaunan muda. Kupu-kupu pun bersuka cita
menyambut kedatangan bunga. Rintik hujn menebarkan bau tanah semerbak.
Menelusup dalam hati. Debu-debu luruh berganti embun kemurnian. Maisarah
menanak nasi liwet dengan perut bak gunung yang menjulang tinggi. Sesekali
dipegangi punggungnya yang sedikit-sedikit terasa ngilu.
Maisarah :”Aduh…,
mulas sekali perutku, (gumamnya lirih)
Ibu ! (dengan perlahan Maisarah memanggil
ibunya yang sedang sibuk menampi beras. Kang Jamal pun sibuk mengeluarkan
burung perkutut piaraannya). “Sakit sekali rasanya perut ini, Bu!”
Salbiah :”Oh,
anakku! Sebentar lagi debu-debu itu akan luruh bersama hujan-hujan itu, anakku.
Tenanglah, Ibu, akan membantumu. Berbaringlah, anakku. (Salbiah menuntun Maisarah kepembaringan). “Jamal, kesinilah
sebentar, anakku!”
Kang Jamal :”Maisarah! (secara
perlahan jamal mendekati istrinya yang sedang meregang rasa sakit. Diciumnya
keningnya yang berkeringat). Tenanglah
sayang, anak kita akan lahir. Kamu akan menjadi ibu, istriku. (jemari Maisarah meremas dengan kuat tangan Jamal.
Di luar sana hujan semakin deras disertai petir yang menggelegar. Debu itu kian
luruh tersapu hujan mengalir di sungai-sungai yang warnanya bak susu coklat.
Suara tangisan bayi sayup-sayup terdengar bersahutan seiring bunyi petir yang
mendayu-dayu. Seorang bayi mungil laki-laki terlahir dari rahim Maisarah).
Salbiah :”Lihatlah,
anakku, makhluk ini sangat murni. Halus lembut bak debu yang suci. Tangisnya
merdu melantunkan syair-syair Tuhan kepada umatnya.”
Kang Jamal dengan
segera melantunkan suara azan di telinga bocah mungil tu.
Dengan suara lirih
digendongnya bocah yang bukan darah dagingnya itu penuh kasih.
Kang Jamal :”Maisarah, bolehkan aku memberikan nama terindah
untuk calon pemuda tampan ini?”
Maisarah :
(dengan senyuman yang tersungging bahagia
Maisarah pun menjawab dengan mesra) “Sudah barang tentu, suamiku.”
Kang Jamal :”Debu Arang. Ya, Debu Arang nama yang kusematkan
untuk putraku ini.”
Dengan tangis bahagia Maisarah
merengkuh kebahagiaan. Kehadiran debu
yang sering dianggap kotor dan mengganggu kini menjadi debu yang murni,
kesuciannya mengubah pola pikir manusia yang sok suci. Mendiskreditkan debu sebuah
sampah, aib, dan menjijikan. Itulah mengapa Tuhan telah memerintahkan umatnya
bersuci dengan debu (tayamum) di kala hujan enggan menyapa. Juga mensucikan
segala najis besar dengan debu pada hakikatnya debu adalah serpihan tanah dan
manusia pada hakikatnya berasal dari tanah. Lalu apa yang patut disombongkan
dari segumpal tanah sehingga menjadi musuh dan pembangKang yang nyata.
Bilalah malam
semakin gelap, angin berhembus tiada berpihak
Jangkrik dan
burung penghias malam
Malam yang
senyap pelelap jiwa
Bila hidupmu
penuh prasangka, hatimu gundah tiada tertata
Bila gundahmu
sudah meraja, matilah jiwa tiada bersu
ka
Syair kehidupan Ngatmiyatun
Catatan :
Kang
(akang) : sebutan
kakak laki-laki masyarakat sunda dan jawa
Huruf miring diapit kurung : tindakan tokoh setiap adegan maupun babak
Naskah DEBU mendapatkan apresiasi Juara 2 di event penulisan drama modern tingkat umum Se-kalimantan selatan yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata Banjarbaru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar